Selasa, 12 Oktober 2010

Laporan Praktikum Koloid Berion


A.  JUDUL PRAKTIKUM         : KOLOID BERION
B.  TUJUAN PRAKTIKUM      : Memahami sistem yang terjadi pada koloid berion (reaksi pengendapan antara AgNO3 + NaCl).
C.  DASAR TEORI                    :
Sistem koloid adalah suatu campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensi (campuran kasar) dan bersifat metastabil, seolah – olah stabil tetapi saat tertentu akan memisah. System koloid ini mempunyai sifat – sifat khas yang berbeda dari sifat larutan atau suspensi. Keadaan koloid bukan ciri dari zat tertentu karena semua zat, baik padat, cair, maupun gas, dapat dibuat dalam keadaan koloid.
Didalam larutan koloid ada 2 zat, yakni sebagai berikut :
-      Zat terdispersi, yakni zat yang terlarut didalam larutan koloid.
-      Zat pendispersi, yakni zat pelarut didalam larutan koloid.
Berdasarkan fase terdispersi maupun fase pendispersi suatu koloid dibagi sebagai berikut :
Fase
Nama koloid
Contoh
Terdispersi
Pendispersi
Gas
Gas
Bukan koloid, karena gas bercampur secara homogen
Gas
Cair
Busa
Buih, sabun, ombak, krim kocok
Gas
Padat
Busa padat
Batu apung, kasur busa
Cair
Gas
Aerosol cair
Obat semprot, kabut, hair spray di udara
Cair
Cair
Emulsi
Air santan, air susu, mayones
Cair
Padat
Gel
Mentega, agar-agar
Padat
Gas
Aerosol padat
Debu, gas knalpot, asap
Padat
Cair
Sol
Cat, tinta
Padat
Padat
Sol Padat
Tanah, kaca, lumpur

SIFAT KOLOID
1.    Efek Tyndall
Efek Tyndall adalah penghamburan cahaya oleh larutan koloid, peristiwa di mana jalannya sinar dalam koloid dapat terlihat karena partikel koloid dapat menghamburkan sinar ke segala arah.
Contoh sinar matahari yang dihamburkan oleh partikel koloid diangkasa, debu dalam ruangan akan terlihat jika ada sinar masuk melalui celah.
2.    Gerak Brown
Gerak braown adalah gerak partikel kolid dalam medium pendispersi secara terus menerus, karena adanya tumbukan antar partikel zat terdispersi dan zat pendispersi. Karena gerak aktif yang terus – menerus ini, partikel koloid tidak memisah jika didiamkan.
3.    Adsorbsi Koloid
Adsorbsi Koloid adalah penyerapan zat atau ion pada permukaan koloid. Sifat adsorbsi digunakan dalam proses:
a.    Pemutihan gula tebu.
b.    Norit.
c.    Penjernihan air.
Contoh:
-        Koloid Fe(OH)3 akan mengadsorbsi ion H+ sehingga menjadi bermuatan +. Adanya muatan senama maka koloid Fe(OH), akan tolak-menolak sesamanya sehingga partikel-partikel koloid tidak akan saling menggerombol.
-       Koloid As2S3 akan mengadsorbsi ion OH- dalam larutan sehingga akan bermuatan - dan tolak-menolak dengan sesamanya, maka koloid As2S3 tidak akan menggerombol.
4.    Muatan koloid dan Elektroforesis
Muatan Koloid ditentukan oleh muatan ion yang terserap permukaan koloid. Elektroforesis adalah gerakan partikel koloid karena pengaruh medan listrik.
Karena partikel koloid mempunyai muatan maka dapat bergerak dalam medan listrik. Jika ke dalam koloid dimasukkan arus searah melalui elektroda, maka koloid bermuatan positif akan bergerak menuju elektroda negatif dan sesampai di elektroda negatif akan terjadi penetralan muatan dan koloid akan menggumpal (koagulasi).
Contoh: cerobong pabrik yang dipasangi lempeng logam yang bermuatan listrik dengan tujuan untuk menggumpalkan debunya.
5.    Koagulasi Koloid
Koagulasi koloid adalah penggumpalan koloid karena elektrolit yang muatannya berlawanan.
Contoh: kotoran pada air yang digumpalkan oleh tawas sehingga air menjadi jernih.
Faktor-faktor yang menyebabkan koagulasi:
-          Perubahan suhu.
-          Pengadukan.
-          Penambahan ion dengan muatan besar (contoh: tawas).
-          Pencampuran koloid positif dan koloid negatif.
Koloid akan mengalami koagulasi dengan cara:
a)    Mekanik
Cara mekanik dilakukan dengan pemanasan, pendinginan atau pengadukan cepat.
b)   Kimia
-       Dengan penambahan elektrolit (asam, basa, atau garam).
Contoh: susu + sirup masam —> menggumpal
lumpur + tawas —> menggumpal
-       Dengan mencampurkan 2 macam koloid dengan muatan yang berlawanan.
Contoh: Fe(OH)3 yang bermuatan positif akan menggumpal jika dicampur As2S3 yang bermuatan negatif.


PEMBUATAN SISTEM KOLOID
1.    Cara Kondensasi
Pembuatan sistem koloid dengan cara kondensasi dilakukan dengan cara penggumpalan partikel yang sangat kecil. Penggumpalan partikel ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a.    Reaksi Pengendapan
Pembuatan sistem koloid dengan cara ini dilakukan dengan mencampurkan larutan elektrolit sehingga menghasilkan endapan.
Contoh: AgNO3 + NaCl —> AgCl(s) + NaNO3
b.    Reaksi Hidrolisis
Reaksi hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air. Sistem koloid dapat dibuat dengan mereaksikan suatu zat dengan air.
Contoh: AlCl3 +H2O —> Al(OH)3(s) + HCl
c.    Reaksi Redoks
Pembuatan koloid dapat terbentuk dari hasil reaksi redoks.
Contoh: pada larutan emas
Reaksi: AuCl3 + HCOH —> Au + HCl + HCOOH
d.   Reaksi Pergeseran
Contoh: pembuatan sol As2S3 dengan cara mengalirkan gas H2S ke dalam laruatn H3AsO3 encer pada suhu tertentu.
Reaksi: 2 H3AsO3 + 3 H2S —> 6 H2O + As2S3
e.    Reaksi Pergantian Pelarut
Contoh: pembuatan gel kalsium asetat dengan cara menambahkan alkohol 96% ke dalam larutan kalsium asetat jenuh.
2.    Cara Dispersi
Pembuatan sistem koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan memperkecil partikel suspensi yang terlalu besar menjadi partikel koloid, pemecahan partikel-partikel kasar menjadi koloid.



a.    Cara Mekanik
Ukuran partikel suspensi diperkecil dengan cara penggilingan zat padat, dengan menghaluskan butiran besar kemudian diaduk dalam medium pendispersi.
Contoh: Gumpalan tawas digiling, dicampurkan ke dalam air akan membentuk koloid dengan kotoran air.
Membuat tinta dengan menghaluskan karbon pada penggiling koloid kemudian didispersikan dalam air.
Membuat sol belerang dengan menghaluskan belerang bersama gula (1:1) pada penggiling koloid, kemudian dilarutkan dalam air, gula akan larut dan belerang menjadi sol.
b.    Cara Peptisasi
Pembuatan koloid dengan cara peptisasi adalah pembuatan koloid dengan menambahkan ion sejenis, sehingga partikel endapan akan dipecah.
Contoh: sol Fe(OH)3 dengan menambahkan FeCl3.
sol NiS dengan menambahkan H2S.
karet dipeptisasi oleh bensin.
Agar-agar dipeptisasi oleh air.
Endapan Al(OH)3 dipeptisasi oleh AlCl3.
c.    Cara Busur Bredia/Bredig
Pembuatan koloid dengan cara busur Bredia/Bredig dilakukan dengan mencelupkan 2 kawat logam (elektroda) yang dialiri listrik ke dalam air, sehingga kawat logam akan membentuk partikel koloid berupa debu di dalam air.
d.   Cara Ultrasonik
yaitu penghancuran butiran besar dengan ultrasonik (frekuensi > 20.000 Hz)




D.   ALAT DAN BAHAN :
Alat :
Corong                                                  Tabung sentrifuge
Bunshen                                                Gelas kimia
Tabung reaksi
Bahan :
AgNO3
NaCl
    Na2CO3 jenuh
larutan ammonia
HCl 6 M
NH4OH
Ag(NH3)2+
E.   CARA KERJA :
1. Pembuatan Koloid :
          AgNO3 ditambahkan dengan larutan NaCl maka akan terbentuk endapan AgCl dan NaNO3, dengan reaksi : AgNO3 + NaCl —> AgCl(s) + NaNO3
2. Pembuktian Kation Ag
Endapan AgCl
-  + AgNO3 berlebih
-  + HCl 6M
-  Disentrifuge
-  Disaring
Endapan kemungkinan adalah Hg2Cl2, AgCl, atau PbCl2
-  Dipenangas
-  + NH4OH 6N
-  Dipanaskan dan disentrifuge
-  + Ag(NH3)2+
Endapan          menandakan terdapatnya ion Ag

3. Pembuktian Anoin Cl
Endapan AgCl
-  + NaCl berlebih
-  + Na2CO3 jenuh
-  Dipanaskan
-  Disaring
Larutan persiapan untuk diuji anionnya
-  + AgNO3hingga membentuk endapan
-  + larutan amoniak
            Endapan larut              menandakan terdapatnya ion

F.   PEMBAHASAN
AgNO3 + NaCl —> AgCl(s) + NaNO3, jika NaCl berlebih maka endapan AgCl akan berjalan kearah ion negative Cl, endapan Cl dapat dibuktikan dengan produk yang diperoleh ditambah dengan Na2CO3 jenuh kemudian dipanaskan diatas bunshen kemudian disaring (menjadi larutan persiapan untuk diuji anionnya), untuk membuktikan adanya ion Cl yang dominan maka larutan persiapan ditambah AgNO3 sehingga membentuk endapan kemudian ditambah larutan ammonia(NH3),jika endapan larut maka terbukti produk tersebut mengandung ion Cl yang dominan.
Jika AgNO3 yang berlebih maka endapan AgCl akan berjalan kearah ion positif Ag, endapan Ag dapat dibuktikan dengan produk yang diperoleh ditambah dengan HCl 6M kemudian disentifuge kemudian disaring, endapan yang diperoleh kemungkinan adalah Hg2Cl2,AgCl, atau PbCl2, untuk membuktikan produk tersebut adalah AgCl maka endapan yang didapat dipenangas kemudian ditambah NH4OH 6N kemudian dipanaskan dan disentrifuge kemudian ditambah Ag(NH3)2+, jika terdapat endapan maka itu adalah endapan AgCl yang menandakan terdapatnya ion Ag.
G.  KESIMPULAN :
Dari penambahan NaCl yang berlebih pada endapan AgCl maka dapat dibuktikan bahwa endapan AgCl lebih bergerak kearah Cl dengan munculnya endapan yang dapat larut pada larutan amoniak melalui cara kerja diatas. Dan jika penambahan berlebihnya pada AgNO3 maka reaksi berjalan kea rah kation Ag yang dibuktikan dengan terdapatnya endapan jika ditambah Ag(NH3)2+ melalui langkah kerja diatas.
H.  DAFTAR PUSTAKA
Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar (cetakan kedua). Jakarta: PT. Gramedia
Yazird, Estien. 2005. Kimia Fisika Untuk Paramedis. Jogja: ANDI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar